Cerpen – Ibu

Hari itu hari pertama masuk sekolah lagi setelah libur panjang pergantian tahun ajaran baru.  Aku sebenarnya agak tidak terlalu antusias dengan hal ini karena antusiasmeku itu sedikit sirna karena pengumuman beberapa waktu lalu bahwa keputusan untuk mulai memberlakukan kegiatan sekolah dan belajar mengajar tatap muka kembali terpaksa harus ditunda karena adanya kenaikan kasus Covid-19 yang begitu masih dan disebut-sebut sebagai gelombang kedua. Aku yang kemarin sempat begitu antusias menanti datangnya hari dimulainya kegiatan sekolah lagi, terpaksa harus meredam lagi antusiasme itu. Tertunda lagi untuk bertemu dengan teman-temanku di sekolah yang telah terpisah lebih dari setahun dan hanya dipertemukan secara virtual melalui perangkat internet.

“Ayah liat buku catatan aku yang warna merah tidak?”

“Tidak nak, coba Tanya ibu mungkin kemarin ibu beres-beres dan lihat buku itu terus disimpan”

“Bu, ibu lihat buku catatan aku yang warna merah?”

“Oh yang sampulnya ada tulisan Korea itu ya, ibu taruh diatas meja TV nak kemarin ibu beres-beres ketemu bukunya cuma ditaruh sembarangan gitu sih kamu”

Aku pun menjalani hari pertama sekolah dengan biasa saja,tidak ada yang begitu berkesan dan hari pertama itu berlalu begitu saja. Malamnya kami bertiga makan malam keluarga bersama dan aku begitu bahagia dengan kedua orang tuaku yang sangat harmonis dan begitu menyayangiku. Meski hariku tidak terlalu menyenangkan dengan aktivitas sekolah daring sepanjang hari tadi, tapi hangatnya makan malam ini cukup membuatku senang.

Hari hari pun berlalu, aku dengan aktifitas sekolah daring, ibu mengurusi pekerjaan rumah, sedangkan ayah harus bekerja secara selang-seling dari rumah dan ke kantor secara bergantian dengan karyawan lainya karena kantor ayah masih memberlakukan 50% work from home jadi karyawan dijatah untuk kebagian giliran kerja dirumah dan di kantor secara bergiliran.

“Ayah berangkat dulu ya”

“Oke ayah, hati-hati di jalan.

Tersisa aku dan ibu dirumah dan sejak semalam kemarin ibu sudah menunjukan tanda-tanda kondisi kurang enak badan. Aku yang mulai agak khawatir berusaha menepis pikiran-pikiran negatif penuh kekhawatiran dan menyempatkan waktu untuk membantu ibu dengan pekerjaan rumah disela-sela jeda aktifitas belajarku.

“Biar aku saja bu yang lanjut ngepelnya, ibu istirahat saja dulu setelah menyapu, habis jam pelajaran ini aku istirahat, nanti aku yang ngepel aja bu”

“Bisa kamu nak? Nanti telat loh kamu masuknya di jam pelajaran selanjutnya”

“Bisa bu, sudah ibu istirahat saja ya”

Malamnya ibu semakin menunjukan gejala-gejala buruk yang membuat pikiranku makin khawatir dengan berbagai asumsi-asumsi negatif. Aku tak mau membayangkan ibu terkena Covid karena itu akan seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Aku berusaha menepis pikiranku dengan segala kekhawatiannya sambil meyakini bahwa ibu baik-baik saja hanya sedikit kelelahan, sangat kecil kemungkinan terkena Covid karena ibu selalu tinggal dirumah dan kalaupun harus keluar untuk membeli kebutuhan, ibu selalu menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Ayah memang sesekali harus berada diluar untuk kepentingan kerja, tapi aku yakin ayah juga pasti selalu patuh dengan protokol yang diberlakukan. Sedangkan aku sendiri, tidak kemana-mana, hanya menghabiskan waktu dirumah saja selama ini.

“Halo ayah, udah dimana sekarang? Bunda titip obat batuk ya”

“Ayah masih menunggu bus di halte, nanti ayah belikan ya, bunda istirahat saja, minta tolong Nora buatkan air hangat terus diminum ya”

Aku yang dalam cemas kemudian sigap pergi ke dapur dan membuatkan segelas air hangat untuk ibu.

Selang beberapa waktu kemudian, ayah pun tiba dan segera merawat ibu dengan memberi obat dan kemudian ibu dibiarkan beristirahat. Malam itu hanya aku dan ayahku yang duduk di meja makan, kondisi yang tidak secerah biasanya berusaha ditepiskan oleh ayah dengan berusaha mengalihkan pikiranku sambil bertanya-tanya tentang kegiatanku di sekolah hari ini. Aku yang sebenarnya paham maksud baik ayah agar aku tidak terlalu murung dengan keadaan, tetap saja tidak bisa menepis kekhawatiran di pikiranku, alhasil aku hanya bisa seadanya menangapi percakapan dengan ayah malam itu.

Hari hari berlalu dan kondisi ibu semakin memburuk, menjelang seminggu ibu mulai kehilangan indra perasa dan penciuman, disitu aku dan ayah sudah tidak bisa lagi menepis kemungkinan bahwa ibu terkena Covid karena gejala sudah semakin parah, kami pun lantas membawa ibu ke klinik terdekat untuk tes swab Covid-19  dan benar saja, mimpi buruk itu menjadi nyata, ibu positif. Saat itu duniaku terasa hancur berantakan. Aku hanya terduduk diam di koridor klinik sambil menunggu ibu dipersiapkan untuk dirujuk ke Rumah Sakit khusus Covid-19 dan diisolasi dan ditangani lebih lanjut.

“Ayah, ibu akan baik-baik saja kan?”

“Kita tau ibu kuat kok, ibu pasti baik-baik saja nak, doakan ibu terus dalam hatimu ya”

Beberapa saat kemudian aku dan ayahku dipanggil untuk di tes swab juga untuk keperluan tracing, meski sempat sedikit khawatir karena kami kontak erat dan tentu beresiko besar juga, tapi karena selama ini tidak ada gejala yang mencolok jadi aku sedikit lebih tenang.

Dan ternyata…

“Maaf pak ternyata hasilnya positif untuk bapak dan anaknya, tapi sistem imun bapak serta anak bapak ternyata cukup kuat untuk melawan virus tersebut dan virus tersebut tidak sampai berkembang dalam tubuh dan menjadi ganas” Demikian kata dokter yang menangani kami.

“Bapak dan anak bapak silahkan bisa mengisolasi diri secara mandiri dirumah karena tidak ada gejala berarti, sambil tetap mengkonsumsi makanan sehat dengan cukup dan vitamin yang diperlukan”

“Sepertinya istri bapak tertular dari bapak namun sayangnya kondisi imun beliau tidak sekuat bapak dan tidak berhasil melawan virus tersebut sehingga kondisnya menjadi parah”

Mendengar penjelasan dokter itu aku langsung terduduk lemas. Perasaanku bercampur aduk antara lega dan sedih karena fakta bahwa ternyata aku dan ayah juga terpapar Covid namun tidak sampai parah, namun juga sedih dan khawatir dengan kondisi ibu yang sekarang harus dirawat di Rumah Sakit khusus Covid-19.

“Ayah, aku lapar”

“Nanti kita mampir warung ya nak, kita beli makan terus makan di rumah saja”

Sesampai di rumah, kami pun makan dan beristirahat. Ayah langsung mengkontak kantornya dan memberi tau situasi yang terjadi sambil meminta izin untuk bekerja penuh dari rumah selama beberapa waktu kedepan.

Hari hari berjalan dengan sepi karena ketidakhadiran ibu dirumah. Aku dan ayah hanya bisa menghubungi ibu via video call sambil terus menguatkan ibu. Namun hari demi hari kondisi ibu tidak kunjung membaik, seminggu sudah berlalu dan kondisi ibu makin parah. Aku dan ayah tidak bisa beristirahat dengan baik di rumah karena khawatir dengan kondisi ibu.

Setelah lewat 10 hari, ayah sudah diijinkan untuk mengunjungi ibu langsung ke rumah sakit. Ayah pun pergi dengan membawa beberapa kebutuhan untuk membantu merawat ibu disana karena kondisi rumah sakit yang juga sudah sangat kewalahan mengadapi pandemi ini.

Sedangkan aku tidak diijinkan datang, selain untuk kebaikanku sendiri, disana memang hanya diijinkan 1 orang saja untuk mendampingi pasien.

“Halo ayah, gimana kondisi ibu yah” Kataku via telepon.

“Ibu masih kritis nak, saat ini kondisinya lagi kesulitan untuk mendapatkan oksigen bantuan, doakan ibu terus ya nak, kamu baik-baik ya di rumah, jangan lupa makan dan minum vitamin nak”

“Baik ayah, ayah juga baik-baik di sana ya” Jawabku lirih sambil meneteskan airmata.

Hari-hariku di rumah sungguhlah sangat suram, aku tidak bisa fokus belajar sepanjang sekolah dan hanya bisa bisa menangis menunggu kabar dari ayah tentang kondisi ibu di sana.

Pagi itu, aku sedang mengikuti kelas daring.

“Nora, kamu baik-baik saja? Kamu semakin terlihat murung dan tidak bisa fokus belajar nak, kalo kamu mau istirahat silahkan ibu ijinkan kamu tidak ikut kelas dulu” Demikian kata ibu guruku ditengah kelas daring tersebut.

“Tidak apa-apa bu, aku bisa lanjut saja”

Kelas pun dilanjutkan, namun mimpi buruk pun kembali datang.

Teleponku berdering, nama ayah terpampang di depan layar dan aku segera mengangkatnya.

“Nak, sebentar lagi pamanmu akan sampai kerumah ya untuk jemput kamu ke Rumah Sakit, ibu sudah terlalu lelah berjuang nak, ibu sudah beristirahat untuk selamanya, kamu yang kuat ya n…”

Belum selesai ayahku berbicara, telepon terjatuh dari genggamanku dan aku menangis sehancur-hancurnya.

Tidak pernah aku merasa sehancur ini dalam hidupku, sosok ibu yang aku sayangi, yang pula menyayangiku dengan sepenuh hati, harus direnggut oleh pandemi ini. Sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit aku tidak berhenti menangis sehancur-hancurnya.

“Ayah” teriakku sesampai di lokasi sembari berlari ke arah ayahku, disambut pelukan ayahku yang juga sedang hancur dalam dirinya.

Hari itu ayah tidak lepas merangkulku erat sambil menyaksikan proses yang berlangsung untuk almarhum ibu. Sesekali ayah memeluku erat sambil berbisik:

“Doakan ibu di tempat terbaiknya dalam peristirahatannya ya nak, ibu sudah baik-baik diatas sana”

Mendengar itu, aku hanya bisa menahan pedih dalam hati sambil terus mencurahkan air mata tanpa henti.

Hari itu kami benar-benar kehilangan sosok yang sangat kami kasihi dalam hidup kami, tidak terbayang bagaimana hidup kami selanjutnya tanpa kehadiran ibu lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s