Menemukan Menulis

“Saya harus berupaya bagaimana lagi ya ini, lelah juga terus-terusan begini tanpa ada satupun upaya saya yang berhasil”.

“Kondisi di tengah pandemi begini, ditambah belum terlihat ada tanda-tanda membaik dalam waktu dekat, ah sakit kepala mikirin keadaan yang begini terus”

Malam itu saya benar-benar diberondong habis-habisan oleh pikiran saya sendiri, berat dan melelahkan sekali menghadapi situasi di tengah pandemi ini ketika saya terjebak di ibukota dan masih menyandang status pengangguran. Bayangan yang tergambar dalam rancangan di pikiran saya sendiri sebelum memutuskan untuk merantau ke Ibukota adalah di sekitaran waktu sekarang ini saya sudah mulai bisa merintis jalan karir saya menjadi budak korporat di tengah ibukota dengan segala gemerlap lampu membungkus tingginya gedung-gedung pencakar langit itu. Tapi kenyataan berkata lain, saat ini di pertengahan tahun 2020 saya terjebak di Ibukota di tengah situasi yang begitu sulit dengan adanya pandemi Covid-19 ini.

“Siapa juga sih yang kepikiran tahun ini akan ada pandemi yang mewabah di seantero dunia, kalau tau akan begini ya mana mau saya memutuskan untuk merantau, pasti niatnya ditunda dulu”.

Ya memang saya, dan bahkan banyak juga orang lain yang tidak menyangka bahwa wabah virus Covid-19 ini akan sampai ke Indonesia, bahkan ke seluruh dunia, sampai menyebabkan terjadinya pandemi lagi setelah sekian lama. Bahkan pemerintah pun pada awalnya begitu yakin dan terkesan terlalu yakin bahwa virus ini tidak akan sampai masuk ke Indonesia, begitu naif sampai akhirnya sekarang kenyataanya situasi pandemi di Indonesia sangatlah buruk dan tidak terkontrol, pemerintah pun jadi kalang kabut dalam penanganannya. Kalau tau keadaan akan seburuk ini pasti saya akan berpikir 1000 kali sebelum memutuskan untuk merantau ke ibukota, menimbang segala resikonya dengan realistis.

Kembali ke malam itu, saya yang lelah memikirkan nasib saya yang seperti kapal kandas ditengah laut, terkatung-katung tak jelas, akhirnya merebahkan diri sejenak sambil browsing media sosial saya. Sejauh yang saya lihat di media sosial, yang mendonimasi adalah berita tentang pandemi, cerita tentang orang-orang yang bejuang melawan pandemi, yang kemudian membuat saya semakin tertekan, niat ingin refreshing sejenak di media sosial, nyatanya malah makin memperumit pikiran saya sendiri.

Sampai akhirnya saya nyangkut pada suatu postingan di twitter yang membahas tentang stream of consciousness. Sebuah istilah yang sedikit familiar, mungkin pernah terdengar entah dimana tapi tidak dikulik lebih lanjut. Saya pun membaca postingan itu dengan seksama dan menemukan bahwa stream of consciousness adalah teknik menulis apa yang ada dalam pikiran kita saat itu juga tanpa memikirkan aspek-aspek penulisan yang baik dan benar, hanya menulis saja sesuai jalan pikiran kita, mencurahkan secara harafiah apa yang sedang kita pikirkan pada saat kita menulis. Menurut postingan tersebut, teknik ini baik dilakukan untuk orang yang sedang dilanda stres karena banyak pikiran tapi tidak terbiasa untuk leluasa curhat ke orang lain tentang apa yang dia rasakan. Bisa dibilang, teknik ini bisa dipakai sebagai media curhat yang dituangkan dalam bentuk tulisan, entah akan dibaca orang lain atau tidak, setidaknya tulis saja dulu apa yang dirasakan untuk sedikitnya melapangkan beban di pikiran dan hati.

Sejenak saya pun berpikir, apa dicoba saja ya, siapa tau kan bisa sedikit membantu meringankan beban pikiran saya sendiri. Kemudian saya memutuskan untuk membuka laptop saya, dan mulai menulis dengan teknik stream of consciousness ini. Malam itu pikiran saya mengalir begitu saja kedalam tulisan, saya benar-benar mencurahkan semua yang sedang saya pikirkan saat itu kedalam tulisan saya, dan ternyata itu sangat menyenangkan dan menenangkan.

“Enak juga ya menulis begini, kenapa saya tidak mengetahui tentang ini dari dulu ya, kemana saja saya selama ini?”

Saking keasikannya saya menulis, tidak disadari sudah hampir 4 halaman saya menulis. Saya kemudian berhenti sejenak dan membaca lagi tulisan saya.

“Lumayan juga ternyata tulisan saya, tidak sejelek itu”

“Ya 4 tahun kuliah sastra ternyata lumayan menyisahkan sedikit skill menulis dalam diri saya”

Kemudian terbersit dalam pikiran saya, tentang postingan tempo hari di instagram yang sempat saya lihat yang memuat iklan lowongan pekerjaan di bidang freelance writer.

“Apa saya coba jadi penulis lepas saja ya, daripada hanya mengandalkan cari kerja begini yang belum membuahkan hasil”

“Ini kan skill yang bisa dipasarkan sebagai jasa, jika diasah dengan baik dan terus dilatih”

Kemudian tulisan tadi disimpan dan saya pun mengalihkan fokus saya ke browser saya untuk riset tentang pekerjaan freelance writer dan sejenisnya dan ternyata cakupannya begitu luas dan terdapat banyak peluang di bidang ini.

“Nah kan, bisa sih ini kayaknya kalo saya mengasah skill saya di bidang ini dan kemudian mulai membangun karir di bidang penulisan”.

Sejam berlalu, dua jam berlalu, tanpa disadari hari sudah menjelang pagi dan saya begitu larut dalam riset saya tentang bagaimana kiat-kiat untuk memulai dan membangun karir di bidang freelance writer. Sudah banyak poin penting yang saya dapatkan dan kemudian saya berhenti sejenak, merebahkan diri dan merenung, menimbang segala kemungkinan dan kesempatan yang ada yang bisa saya manfaatkan dan maksimalkan, melihat keadaan di tenah pandemi yang begitu sulit dan belum terlihat akan berakhir ini.

“Bisa sih ini, dicoba dulu lah ya mana tau saya menemukan jalan saya disini, setidaknya lumayan buat bertahan hidup sementara”.

Hari sudah pagi, matahari telah terbit dengan terangnya, dan saya, dengan mata memerah karena belum juga beristirahat tidur, kemudian dengan yakin menetapkan hati dan pikiran untuk memulai membangun jalan karir saya di bidang freelance writer. Dengan segala modal teori, tips, dan langkah-langkah yang harus dilakukan yang telah saya pelajari sepanjang malam sampai menjelang pagi untuk memulai jalan saya menjadi seorang freelancer, saya memantapkan langkah dan dengan yakin siap untuk perjalanan baru ini. Sepertinya hari itu, saya menemukan menulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s